Wajah Generasi Penerus Bangsa Dalam Situasi Pendidikan Hari Ini

Wajah Generasi Penerus Bangsa Dalam Situasi Pendidikan Hari Ini

Penulis: Febrianus Felis
Divisi Orang Muda & Pendidikan
Temu Kebangsaan 2017

Sejak diproklamasikan kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tahun 1945, salah satu tugas Negara Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Pencerdasan kehidupan bangsa Indonesia tentunya dimanifestasikan melalui pendidikan.

Berbagai pola pemerintahan telah dilalui dalam kemerdekaannya, diantaranya Orde Lama (1950–1959), Demokrasi Terpimpin (1959–1965), Masa Transisi (1965–1966), Orde Baru (1966–1998). Dan saat ini, NKRI berada pada Era Reformasi (1998–sekarang) yang nantinya akan menuju pada era kebangkitan kedua, yaitu menuju 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045 nanti, yang mana oleh Kemendikbud dicanangkan sebagai masa kebangkitan generasi emas.

Disamping kesempatan emas yang dicanangkan oleh Kemendikbud, potret pendidikan hari ini sangat jauh dari kata sejahtera.

Disparitas pendidikan antara di kota dan di daerah perbatasan masih sangat jauh berbeda. Disinilah letak kegagalan negara Indonesia dalam mencetak generasi emas (penerus bangsa), karena tidak adanya peran stragesis pembangunan bidang pendidikan.

Mari kita potret pendidikan hari ini dari wilayah perbatasan seperti yang dimuat dalam program prioritas Presiden Jokowi yaitu nawacita, membangun Indonesia dari pinggiran.

Untuk sebagai sampel wilayah perbatasan, hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (Aksi) yang dilakukan oleh Kemendikbud menunjukkan, nilai rata-rata kemampuan membaca siswa SD di Kalimantan Utara berada dua poin di bawah nilai nasional. Hasil yang ditemukan melalui Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) yang dilakukan di Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau, hanya 14,59 persen siswa kelas 1 SD yang mampu membaca, sedangkan di kelas II hanya 60.99 persen. Bahkan dari anak yang bisa membaca tersebut, tidak semua anak bisa memahami bacaan secara implisit dan mencari informasi eksplisit dari bacaan.

Selain pelajar, tenaga pendidik juga merupakan faktor yang menentukan keberhasilan dalam dunia pendidikan. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Kabupaten Bulungan memiliki 1.300 tenaga guru. Sebanyak 20 persen dari jumlah tersebut belum berkualifikasi sarjana. Hal ini mau menegaskan bahwa kondisi geografis yang sulit dan layanan pendidikan yang terbatas memberikan dampak yang sangat signifikan khususnya dalam bidang pendidikan hari ini.

Belum lagi jika kita memotret pada sekolah tapal batas di Kabupaten Nunukan, desa sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah. Yang mana permasalahan pendidikannya jauh lebih miris, baik itu dari segi prasarana, infrastruktur sekolah, maupun tenaga pengajar.

Berbicara pendidikan perbatasan tidak akan pernah selesai jika pemerintah Indonesia acuh tak acuh melihat permasalahan pendidikan hari ini.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia menempatkan permasalahan pendidikan sebagai permasalahan nomor satu. Tidak menutup kemungkinan pelajar perbatasan akan lebih menarik untuk melirik pendidikan negara tetangga.

Ketertarikan ini akan menjadi bencana bagi bangsa Indonesia karena harus kehilangan generasi emas (penerus bangsa).

Pemerintah Indonesia harus menyiapkan langkah dalam meningkatkan guru untuk mengajar di daerah perbatasan dan daerah lainnya yang kekurangan tenaga pendidik.

Namun, harus juga memperhatikan kesejahteraan bagi para guru. Harus diimbangi dengan insentif dan jaminan. Selain itu juga harus ada kesamaan persepsi antara legislatif dan eksekutif, baik di daerah maupun di pusat. Hal ini penting, karena dalam membuat kebijakan memiliki langkah yang sama.

Pemerintah juga harus membantu dalam memperbanyak koleksi buku ilmiah untuk daerah khususnya perbatasan, sehingga literasi guru dan murid tidak rendah. Selain itu juga perbaikan infrastruktur jalan menuju sekolah, listrik, jaringan telepon, internet, karena ini juga menjadi faktor pendukung sekaligus penghambat proses belajar menegajar jika tidak terealisasikan dengan baik.

Pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah investasi yang memiliki peranan strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, saat penting untuk merekonstruksi dan mereformulasi desain pendidikan yang dapat mendukung terciptanya generasi emas bangsa Indonesia.

Pendidikan yang layak menjadi hak setiap warga negara, sehingga seyogianya negara hadir untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan khsusunya di daerah perbatasan.
“Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan” (Pramoedya Ananta Toer).

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://temukebangsaan.com/wajah-generasi-penerus-bangsa-dalam-situasi-pendidikan-hari-ini/
Twitter
Share
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *