Stop Stigmatitasi Tenaga Medis Covid-19!

Stop Stigmatitasi Tenaga Medis Covid-19!

Oleh: Ayu Fatma (Forum Temu Kebangsaan Orang Muda)

Semakin hari orang yang terinfeksi virus terus bertambah. Di Indonesia pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk memerangi virus ini. Salah satunya dengan menambah beberapa rumah sakit darurat. Sudah tentu tenaga medis yang diperlukan juga semakin banyak dan mereka dengan bobot pekerjaan yang semakin banyak. Waktu istirahat dokter, perawat, dan tenaga medis lain menjadi berkurang, sampai banyak video yang beredar saat tenaga medis tertidur dalam keadaan duduk lengkap dengan alat pelindung diri/APD. 

    Terlihat dedikasi yang sangat tinggi dari para tenaga medis dalam menangani Pandemi Covid-19 ini. Namun, sangat disayangkan di beberapa pemberitaan petugas medis mendapat perlakuan yang tak pantas. Di Jakarta, seorang perawat yang menangani pasien Covid-19 diusir dari tempat kosnya karena dianggap membawa virus, sehingga harus kembali ke rumah sakit untuk istirahat. Di Yogyakarta, perawat yang menangani pasien Covid-19 dilarang memperpanjang masa sewa kosannya, dan ada pula perawat yang sampai diusir dari rumah oleh suaminya sendiri. Perlakuan yang didapatkan para tenaga medis tersebut berbanding terbalik dengan apa yang mereka sudah lakukan dengan sepenuh hati. Jelas hal-hal diatas adalah tindakan yang tak pantas dilakukan di tengah wabah Covid-19 ini. Beruntung saat ini pemerintah sudah menyediakan tempat tinggal untuk mereka. 

Sumber: BBC World

Tenaga medis adalah garda terdepan upaya kita melawan Pandemi Covid-19. Mereka yang rela bertaruh nyawa, meninggalkan rumah, dan jauh dari keluarga. Sudah pasti bukan hal yang mudah, apalagi bagi tenaga medis perempuan yang masih memberikan ASI eksklusif untuk . Mereka yang bahkan harus menahan untuk buang air ketika menggunakan APD, hingga menggunakan  popok selama menjalankan tugas. Hanya APD lah sekat antara tenaga medis dan pasien Covid-19, sangat dekat. Namun, mereka bekerja sesuai dengan ketentuan dan standar kesehatan sesuai arahan dari WHO. Mereka juga bekerja dengan penuh kehati-hatian dengan penuh tanggung jawab. Mereka tidak sembarangan dalam bertugas sehingga tidak mungkin membawa virus sampai ke tempat tinggal. Alangkah lebih baik jika kita memberikan support kepada mereka, bayangkan jika tindakan penghindaran dan penolakan yang diterima oleh tenaga medis tersebut sampai mempengaruhi performa kerja mereka? Apalagi sampai membuat mereka tidak bisa bertugas sama sekali, yang merugi tidak hanya pasien Covid-19, tetapi kita semua.

    Sebaiknya tenaga medis yang berjuang mengobati pasien corona kita berikan support baik secara moril dan materil. Mereka adalah pahlawan untuk kita semua, justru sebaliknya dengan adanya tenaga medis di sekitar kita baik di kosan atau tetangga rumah bisa menjadi sumber informasi yang valid terkait bagaimana cara menanggulangi virus corona. Hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan kita, tenaga medis yang berada di dekat kita bisa menjadi tempat mengkonfirmasi isu terkait corona. Ketika para tenaga medis berjuang mengobati pasien Covid-19, kita juga bisa berperan aktif dalam menyuarakan kepada mereka yang belum mengerti bahwa yang harus dijauhi adalah virusnya, bukan orangnya ataupun tenaga medis yang membantu menyembuhkan. Saat ini edukasi semacam ini sangat dibutuhkan masyarakat, agar tidak ada lagi stigma negatif terhadap tenaga medis yang menangani pasien Covid-19. Walaupun saat ini kita sedang melakukan social distancing, bukan berarti kita melupakan rasa kemanusiaan kita. Mengutip apa yang dikatakan dr. Tirta, bahwa rumus menangani Covid-19 adalah tidak takut, tapi waspada. Tidak meremehkan, tapi tenang,”