Kisah Garda Depan

Kisah Garda Depan

Oleh: Tandya Pinasthika (Forum Temu Kebangsaan Orang Muda)

Sekilas Covid-19

Pandemi Covid-19 sudah hampir dua bulan melanda Indonesia. Per 11 Mei 2020 menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, terdapat 14.265 kasus positif, 2.881 kasus sembuh, dan 991 kasus meninggal. Sementara secara global menurut WHO, sudah terdapat 4.013.728 kasus terkonfirmasi dan 278.993 kasus meninggal. Memang, pandemi ini sangat berdampak bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia terutama dari segi ekonomi. Perekonomian di Indonesia dapat berjalan kembali apabila Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selesai dilakukan yang ditandai dengan menurunnya angka kasus positif dan tidak ada pertambahan kasus baru. Hal ini dapat terjadi karena bantuan dari tim layanan kesehatan dan medis yang bekerja keras di rumah sakit untuk mengisolasi dan mengobati pasien positif.

Saya berkesempatan untuk mewawancarai salah seorang dokter di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi melalui sambungan telepon pada 11 Mei 2020. Nama dokter tersebut adalah dr. Marcel Prathama yang akrab disapa dr. Marcel merupakan lulusan tahun 2014 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia. Alumni Temu Kebangsaan 2017 ini menjadi tim khusus penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Siloam Bekasi selama dua minggu. Berikut kisahnya selama satu bulan di rumah sakit.

12 Jam Kerja dan Tugas Negara

    Dr. Marcel bertugas mulai di pertengahan bulan April hingga akhir April. Kemudian, Ia dan timnya dikarantina selama 15 hari dari awal bulan Mei dan sudah dilakukan dua kali tes pemeriksaan yaitu rapid test dan swab test untuk memastikan bahwa setelah bertugas, tim medis memang negatif Covid-19. Menurut cerita tim dr. Marcel yang berjumlah 3 dokter dan 10 perawat, mereka mendapat shift 12 jam kerja per hari. Dalam setiap shift-nya dibagi menjadi 1 dokter yang didampingi dengan 3 perawat. “Bahkan terkadang kami harus bekerja hingga 13-14 jam ketika terdapat situasi gawat darurat dan harus membantu teman dalam pergantian shift,” ujarnya.

“Selama 12 jam itu, tidak hanya keringatan, mulai dari menahan lapar dan menahan ke toilet, sudah menjadi keseharian kami, bahkan untuk tidur pun kami perlu hati-hati dan ketika menggunakan APD tidak boleh sembarangan memegang barang,” ujar dr. Marcel sambil mengingat-ingat pengalamannya. “Menurut saya, saya merasa bangga, dengan tim saya, dengan kerja sama bersama manajemen rumah sakit karena ini merupakan tugas negara yang mulia,” tambahnya.

Tiktok dan Memotivasi

    Walaupun bekerja 12 jam tidak menyurutkan semangat dr. Marcel dan tim, salah satu kegiatan yang menghibur diri adalah Tiktok. “Ya, biasanya kalau kami di ruangan bangsal isolasi, memberikan support satu sama lain, bercanda, selfie, menonton film, main game, menyanyi hingga Tiktok,” ujar dr. Marcel sambil tertawa.

    Tidak hanya menghibur diri, Dr. Marcel mengatakan bahwa dirinya dan tim juga perlu memotivasi dan menghibur pasien yang menjadi pasien positif karena secara umum pasien merasa tidak ada harapan dan gelisah. “Ada pasien yang mengamuk, menangis, minta pulang, dan menanyakan kabar keluarganya ke kami,” kata dr. Marcel.

Namun juga ada beberapa hal kecil yang membuat dr. Marcel dan tim merasa senang, seperti senyuman pasien, kabar bahwa kondisi pasien semakin membaik setiap harinya, dan pasien yang menanyakan kabar para dokter dan perawat.

Pesan untuk Orang Muda

    “Karena saat ini pandemi belum berakhir, maka tetap menjaga kesehatan. Lakukan pola hidup bersih dan sehat, selalu mencuci tangan dan menggunakan masker. Tetap lakukan social distancing dan physical distancing,” ujar dr. Marcel untuk orang muda. Ia juga mengatakan perlu disadari bahwa setiap pribadi dari masyarakat adalah pahlawan karena dengan menjaga jarak dapat menyelamatkan banyak nyawa.

    Tidak hanya melakukan social distancing dan physical distancing, dr. Marcel berpesan untuk orang muda agar memerangi Covid-19 dengan tidak menyebarkan berita hoaks dan berita bohong yang dapat menyebarkan ketakutan di masyarakat.

    Dr. Marcel juga berharap pandemi ini segera berakhir karena menyengsarakan masyarakat baik secara global dan lokal. “Harapan saya juga, bagi pemerintah juga lebih gencar untuk memberantas Covid-19 ini. Segala peraturan dan kebijakan harus dijalankan sampai tuntas. Jangan berhenti berjuang untuk NKRI,” tambahnya.