Mencintai Tuhan Dengan Keangkuhan

Mencintai Tuhan Dengan Keangkuhan

Oleh: Samuel Gunawan Siallagan
Divisi Media Temu Kebangsaan 2017

Manusia yang beragama akan ngomong atau nunjukin kalau dia mencintai Sang Ilahi (entah itu lu pada sebut Tuhan, Allah, Dewa atau apa saja terserah kalian saja. Gue hargai keyakinan kalian) entah itu iklhas atau nggak atau mungkin itu hanya paksaan semata. Rasa cinta sama Sang Pencipta itu tidak sama persis dengan menyatakan cinta sama orang tua apalagi cara nembak gebetan waktu masih bocah ingusan yang masih disuapin sama mama atau bapaknya. “Ketika kita sudah berani menyatakan cinta kepada Sang Ilahi, kita harus belajar mencintaiNya yang penuh misteri sampai kita mati.”

Pertanyaan yang sebenarnya bisa kita lihat secara jelas, apa hubungannya cuy cara manusia mencintai Sang Pencipta dengan keadaan negara kita sekarang? Entah itu dengan Pancasila, gerakan radikal, politik SARA, hoax dan lain-lain? Ada hubugannya itu semua! Untuk itu gue yang cuma seonggok daging yang kebetulan berstatus mahasiswa mencoba menjelaskan apa yang gue pahami tentang judul tulisan gue.

Cinta Kasih: Cara Manusia Mencintai Sang Ilahi

Pernah dengar nggak bahwa Sang Pencipta itu Maha kuasa, Penuh Cinta, Sumber kehidupan dan lain-lain? Gue berasumsi nih kalau kalian sudah pernah dengar itu semua. Tapi bisa jadi ada dari antara kita yang menganggap bahwa Sang Pencipta itu berpihak, melepaskan kejahatan dan kegilaan hati manusia padahal Maha Baik dan lain-lain. Kita nggak bisa menyalahkan pernyataan model yang seperti itu begitu saja. Tentu kita harus lihat dong bagaimana dan kenapa pernyataan model gitu muncul.

Gue secara pribadi melihat bahwa kita itu harus merekonstruksi atau mengubah pola pikir kita tentang cara kita beragama. Apa yang menjadi dasar bagi gue mengatakan bahwa untuk memaknai Pancasila dan kehidupan berbangsa dan bernegara harus kembali memahami kehidupan beragama? Sila ketuhanan itu adanya dimana? Sila pertama! Berarti bangsa ini secara jelas menghargai kehidupan berkeyakinan dong! Jadi kita harus bangun ulang tuh pola pikir. Pola pikir beragama dan nilai-nilai yang ditanamkan akan turun ke dalam sila kedua sampai sila kelima. Lihatlah betapa pentingnya kehidupan beragama di Indonesia? Pentingkan! Bahkan konflik SARA itu muncul karena identitas (entah itu agama, suku, dan lain-lain) menjadi hal yang sangat penting di negeri ini. Tapi kita hanya bahas agama cuy. Tenang aja, gue juga mumet bahas tulisan ribet-ribet.

Sang Pencipta adalah keadilan dan kasih yang paling hakiki. Tapi sering kali manusia mengatasnamakan apa yang mereka sebutkan dan ucapkan sebagai sabda Sang Pencipta. Padahal apa yang diucapkan itu kadang sangat angkuh dan tidak menunjukkan ajaran kasih dalam setiap agama (Sayangnya gue percaya kalau didalam semua agama punya model berpikir yang seperti itu. Lu pada bebas mau percaya itu atau nggak). Sudah kelewat sering banyak yang mengatasnamakan agama tapi ujung-ujungnya menindas. Banyak gerakan yang bilang cinta sama Tuhan, tapi dengan seenaknya bilang kalau mereka paling benar. Alamak! Terus gimana ini? Lama-lama marsitikaman (Baca: Saling menusuk) gara-gara memperebutkan siapa yang paling benar. Kalau udah kaya gini sekalianlah gue pindah ke Merkurius.

Lalu terus gue harus percaya sama praktik agama yang gimana cuy? Praktik agama yang menunjukkan kedamaianlah jelas! Prinsipnya agama adalah jalan menuju kedamaian, sebagai cara bagi kita manusia supaya bisa mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Praktik agama yang menunjukkan kedamaian itulah yang jadi cara untuk menunjukkan kasih-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Terus kalau yang keras kepala kalau cara dia beragama yang paling benar gimana? Satu yang harus kita ingat sebelum jawab pertanyaan model begitu adalah bahwa yang buat agama itu menyeramkan, radikal atau apalah bahasanya adalah perilaku kita dan cara pandang kita terhadap agama. Jadi jangan percaya kalau ada yang bilang agama A itu teroris, agama B sibuk besar-besarkan gedungnya, agama C sibuk dengan hirarkinya dan lain-lainnya.

Cinta kasih yang ada dalam pikiran terus dipraktikkan itulah cara paling dasar bagi manusia untuk mencintai Sang Pencipta. Apa yang lu imani akan hambar kalau hanya sekedar diucapkan tanpa perbuatan yang nyata. Lalu kalau katanya ada yang bully, mobbing atau yang keras dan mengganggu orang lain apa itu cinta kasih? Ya! Tapi terbatas untuk kalangan sendiri! Please jangan buat agama dan cinta kepada-Nya yang penuh dengan kebaikan dan kesucian itu jadi pertumpahan darah di zaman yang bertumpah kemajuan ini. Jangan melangkah mundur!

Cintailah Sang Pencipta dengan kasih yang ada dalam pikiran untuk ditunjukkan, agar semua merasakan pancaran kasih-Nya.

Keangkuhan Beragama

Lu pada percaya nggak kalau beragama bisa membuat kita manusia ini jadi angkuh? Bisa! Lu pada percaya nggak kalau keangkuhan beragama ini datang tanpa kita sadari? Percaya! Lu pada percaya nggak kalau kadang keangkuhan kita beragama itu bisa membawa malapetaka bagi kita sendiri dan orang lain? Percaya! Itu adalah pertanyaan yang sering muncul dibenak gue dan entah gue yang kurang piknik atau gimana, gue sudah tahu jawabannya padahal. Gue gak bakal paksa lu pada yang baca buat percaya sama isi koar-koar gue tadi. Tapi gue bakal jelasin kenapa koar-koar gue itu muncul.

Lu pada percaya nggak kalau beragama bisa membuat kita manusia ini jadi angkuh? Mungkin penjelasan gue ini sifatnya subjektif, karena bagi gue manusia nggak akan pernah sepenuhnya menjadi makhluk yang objektif. Setiap manusia itu hidup dengan subjektivitasnya masing-masing.

Lu pada pernah seneng nggak kalau orang yang seagama atau sesuku dengan mu membuat prestasi. Misalnya pesepakbola agama A tersukses dalam sejarah atau atlet agama B paling berpengaruh. Kita senang itu wajar saja cuy, tapi kalau sampai muncul pernyataan ”Tuh kan udah gue bilang, agama A paling jago soal olahraga dari agama B” Alamak! Emang Sang Pencipta ikut-ikutan soal begituan. Paling parah lagi kalau soal pindah agama. Misalnya ada artis inisialnya KKKM (nggak merujuk orang siapa pun, hanya pemisalan doang) pindah agama terus nggak sukses, lalu ada yang bilang “itu sih karena dia pindah agama, makanya jadi nggak tenar lagi.” Woi pergi piknik lu kalau masih berpikir kaya gitu! Kok bisa kita mengukur kuasa Sang Pencipta dan bilang orang lain itu jadi hancur begitu aja karena pindah keyakinan?

Mind set seperti itulah yang sering gue jumpai dalam kehidupan gue (yang masih menceburkan diri di Indonesia tentunya karena nggak punya duit pindah ke Merkurius). Sering kali agama yang kita anut membuat kita menjadi angkuh. Ketika kita melihat orang lain atau orang terdekat yang seagama dengan kita membuat prestasi, bangganya bukan main. Ketika kita melihat orang yang beragama lain berbuat kesalahan atau tindakan yang tidak baik, seenaknya aja kita bilang kalau agama yang lain itu sarang kejahatan. Percaya atau tidak, sering kali kita juga di dalam rumah ibadah diajarkan untuk seperti itu secara tidak langsung. Kita diajarkan untuk menjadi orang yang mencintai sesama manusia, tapi setelah itu kita diminta untuk tidak menjadi seperti orang lain yang tidak sesuai dengan orang lain karena berbeda pemahaman iman (padahal masih seagama). Pusing pala abang dek, pusing ngadepin yang model gituan. Macam itu aja yang paling betul. Padahal ada kebenaran yang lainnya. Itulah dasar pernyataanku yang pertama. Nggak sanggup pikiran gue bahas yang lebih jauh karena kurang piknik dan kurang perhatian pujaan hati (Aih malah curcol – curhat colongan-, maaf L).

Lu pada percaya nggak kalau kadang keangkuhan kita beragama itu bisa membawa malapetaka bagi kita sendiri dan orang lain? Percaya! Pertanyaan ini adalah buntut (ucet udah kaya kambing aja ada buntutnya –nggak penting-) dari pernyataan sebelumnya. Apa yang terjadi dalam penjelasan sebelumnya itu berdasarkan pengalaman gue sering terjadi tanpa kita sadari. Entah itu karena dorongan dari dalam diri sendiri yang sudah terlanjur basah untuk bangga dengan apa yang dianut (ajaran agama). Selain itu keangkuhan dalam beragama juga muncul dari lingkungan sekitar kita, seperti penjelasan yang gue jelaskan sebelumnya. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan beragama, baik pelajaran yang lu ambil sendiri atau diajarkan orang lain sedikit banyaknya akan berpengaruh buat cara pandang lu soal agama.

Lu pada percaya nggak kalau kadang keangkuhan kita beragama itu bisa membawa malapetaka bagi kita sendiri dan orang lain? Percaya! Malapetaka bagi diri sendiri menurut gue adalah pikiran jadi sempit buat menyikapi kehidupan beragama. Nggak seru aja masa kita hidup dengan saudara beda iman dalam label. Udah kehidupan identitas kesukuan gue penuh label, kehidupan pendidikan gue ada label. Terus kapan gue mau jadi diri sendiri. Keangkuhan beragama yang membuat kita memandang remeh yang lain itulah yang membuat kita hidup dalam interaksi sosial palsu (bahasa kerennya pseudocommunity). Kita hidup dalam komunitas yang kelihatannya harmonis, padahal banyak yang dipendam. Katanya hidup rukun bertetangga, tapi gara-gara lampu warna-warni ribut, gara-gara sound system bertengkar. Gue sih ogah hidup dalam lingkungan begituan.

Ribetkan kalau kita hidup dalam keangkuhan beragama? Emang ribet! Tapi kalau kita nggak mau ribet gimana kehidupan kita mau damai sentosa? Mau kedamaian dan kerukunan yang jadi falsafah bangsa kita hanya jadi pemanis dalam kehidupan bernegara, yang bahkan jadi bahan jualan para orang berduit dan berelasi banyak yang mau jadi penguasa? Ayolah kita mulai berpikir. Sudahkah kita meredam keangkuhan kita dalam beragama.

 

Bisakah Keangkuhan Beragama Dihilangkan?

Bisakah keangkuhan beragama dihilangkan? Tidak Bisa! Terus buat apa dah sesuatu yang nggak bisa dihilangkan dibahas? Buang-buang waktu banget sumpah! Emang yang nggak bisa dihilangkan nggak bisa diminimalisir atau diredam? Satu prinsip yang harus diingat adalah bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk menunjukkan keangkuhan kita melalui identitas keagamaan yang kita anut.

Kita harus sadar cuy kalau agama memang mengajarkan kita tentang kebaikan dan kesucian. Tapi saat bersamaan kita juga harus sadar kalau sebenarnya manusia sering kali keliru dalam mempraktikkan agama. Praktik yang idealnya mau nunjukkin kasih, eh malah jadi sarang kesombongan dan penindasan. Ketika kita hendak mengingatkan tentang kekeliruan, eh malah kita kadang merasa paling benar. Memang benar dah kalau manusia itu memang sarang kekeliruan dan kesalahan. Kita harus rendah hati mengakui itu semua.

Kalau agama yang kita anut sering menunjukkan gelagat untuk merendahkan orang lain, bertransaksi politik yang jelas menguntungkan kelompok tertentu, mengajarkan kita untuk membenci orang atau kelompok lain bagaimana. Hal seperti itu pasti ada! Itu adalah bagian dari keangkuhan beragama! Hal seperti itu tidak patut dilakukan di dalam konteks Indonesia yang plural dan menjunjung tinggi nilai keagamaan. Itu adalah kekeliruan mendasar kita dalam mempraktikkan ajaran agama yang baik dan suci itu.

Jangan merasa terhina kalau lembaga agama atau orang-orang yang kita anggap sebagai perwakilan kita sebagai umat beragama melakukan kesalahan atau membuat resah banyak orang. Kalau kita nggak punya daya buat menegur, setidaknya mari ciptakan lingkungan yang bisa meminimalisir kesalahan yang sering kita lakukan dalam beragama. Keangkuhan beragama yang paling bodoh bagi saya adalah ketika sudah tau melakukan kesalahan tapi masih ngotot merasa yang paling benar. Yang kaya gini-gini yang bikin manusia tipe emosian gak jelas bakal cepat naik darah.

Banyak sekali kekeliruan yang kita alami. Tapi kurangnya kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dalam mempraktikkan nilai-nilai keagamaan juga menjadi sumber keangkuhan beragama. Untuk itu alangkah baiknya kita meminimalisir keangkuhan beragama dalam petualangan untuk mencari keilahian Sang Pencipta dengan terus merendahkan diri memohon petunjukkan dan mengakui segala kesalahan kita kepada-Nya dan juga kepada sesama manusia.

Apa Kaitan Keangkuhan Beragama dan Pancasila

Keangkuhan beragama membuat kita sulit untuk menjaga kerukukan dalam kemajemukan, sebuah nilai penting di dalam Pancasila. Kita terlalu takut ajaran agama kita dibicarakan orang lain. Kita terlalu takut agama kita yang dikaji atau kita yang mengkaji agama orang lain membuat iman kita akan goyah. Aih, sampai segitunya! Padahal dari kehidupan bersama dalam kemajemukan kita bisa belajar nilai-nilai kebajikan lainnya. Misalnya gue yang Kristen Protestan belajar tentang pentingnya menjaga relasi dengan Sang Pencipta setiap waktu melalui sholat lima waktu dalam ajaran Islam, belajar untuk menghormati orang-orang suci yang menunjukkan cinta kasih dalam ajaran Katolik, belajar untuk selaras dengan alam dalam ajaran Hindu dan lain-lain. Terus iman gue terkikis gitu? Hanya Sang Pencipta yang tahu itu, gue berserah pada-Nya.

Kalau kita umat beragama masih sering memandang sebelah mata agama lain yang berbeda dengan kita dan hidup dalam label-label yang gak mutlak kebenarannya, mau dibawa kemana kehidupan kemajemukan bangsa kita? Sudah saatnya kita memaknai kembali sila pertama Pancasila itu. Keesaan atau kesatuan seperti apa yang mau dihidupi? Yang pasti bukan untuk memaksakan kehendak dalam kehidupan beragama. Tapi bagaimana menjadikan kehidupan beragama menjadi satu nafas, yaitu kehidupan beragama yang bernafaskan cinta kasih (pernyataan gue ini muncul berdasarkan refleksi pribadi tanpa membaca literatur terkait pembahasan sila pertama dalam Pancasila). Sesederhana itu penjabaran yang bisa gue berikan. Selain karena otak gue yang keburu berasap nulis celotehan ini, juga karena untuk soal ini butuh perjalanan yang panjang (tentu perjalanan yang penuh dengan usaha berupa kegiatan berpikir).

 

Kesimpulan

Harapan gue adalah semoga kita bisa memaknai kembali Pancasila ini. Dimaknai dalam proses berpikir, bukan asal berkoar untuk memandang rendah saudara kita. Manusia itu sama, identitasnya yang berbeda. Kebenaran yang kita percaya akan bertemu dengan kebenaran lainnya, apalagi dalam konteks Indonesia yang majemuk. Jangan pakai Sang Pencipta menjadi alasan untuk membenarkan perbuatan yang membedakan orang lain yang berbeda dengan kita. Sudah saatnya kita berubah. Sudah saatnya kita memaknai kembali Pancasila, dimulai dengan cara pandang kita dalam menunjukkan cinta kepada Sang Pencipta dalam masyarakat yang majemuk di Indonesia negeri tercinta.

Salam cinta untuk Indonesia dari seonggok manusia yang hidup di Indonesia, yang belajar mencintai Indonesia sampai akhir hayat.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://temukebangsaan.com/mencintai-tuhan-dengan-keangkuhan/
Twitter
Share
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *