Ketika Republik Kita Masuk Angin

Ketika Republik Kita Masuk Angin

Oleh: Korpus Krsti Yohanes Darmo
Divisi orang muda dan lingkungan Temu Kebangsaan Orang Muda Indonesia 2017

Tulisan ini mencoba melihat pada pendekatan yang berbeda tentang situasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana akhir-akhir ini kondisi yang ada cukup memprihatinkan. Tulisan ini tidak akan berbicara pada satu spesifikasi tematik yang berkembang, namun akan mencoba mengeneralisir beberapa persolan yang ada.

Setiap dari kita tentu pernah melihat salah satu tayangan iklan di televisi tentang masuk angin yang biasanya berbunyi “masuk angin minum antangin JRG, wes ewes ewes bablas angine”. Hari ini indonesia tentu butuh “antangin JRG” (baca:solusi konstuktif) atas “angin” (baca:persolan) yang sedang berkembang dan menumpuk dalam negara.

Indonesia kemasukan angin!! Tentu bebrapa orang akan heran akan statement tersebut, nampaknya selain manusia negarapun bisa kemasukan angin. Angin yang sedang berkembang akhir-akhir ini di Indonesia bisa disebut “angin edan” (baca: angin gila) dimana semuanya sedang kerasukan kegilaan, mulai dari gila kuasa (baca: konflik kekuasan), gila agama (baca: persoalan intoleransi dan rasisme), gila keuangan (persoalan KKN), gila pendengaran (gagal paham dan percaya HOAX) dan gila-gila lainya dimana kegilaan itu menyebakan rakyat terabaikan.

Saat ini banyak orang mulai keracunan teori politik Machiavelli yang menulis bahwa “berpura-pura gila itu merupakan keputusan yang sangat bijak”. Hal ini tentu berkontradiktif dengan prinsip-prinsi bernegara Indonesia, dimana dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut sila-sila dalam Pancasila (the five principles) sebagai prinsip-prinsip kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu landasan bernegara bukan pada kegilaan atau berpura-bura gila, namun akan pencapaian kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Republik yang masuk angin tentu akan mudah mengalami kegalauan politik, dimana setiap keputusan pemerintah dilandasi pada galau-galau (baca: ragu-ragu) meskipun para pemangku kebijakan selalu berkilah bahwa itu adalah sebuah kehati-hatian dalam memutuskan. Angin yang terus bertahan di tubuh republik ini memberikan sebuah legitimasi bahwa hari ini urusan kesejahteraan rakyat dan persoalan-persoalan hidup masyarakat tidak lebih penting dari “persolaan elit politik” yang terus berkembang.

Gempuran kapitalisme yang saat ini menggerogoti nilai-nilai sosial atropologis masyarakat menyebabkan  penyelesaian persolan hanya memalui kertas dengan angka-angka (baca: uang) mulai dari beberapa lembar hingga ratusan lembar.

Sementara dilain sisi jumlah masyarakat miskin melalui survei BPS Maret 2017 menyebutkan, dari total 27,76 juta penduduk miskin di Indonesia, sebanyak 62,24% atau 17,28 juta orang berada di kawasan pedesaan. Sementara, sisanya 37,76% atau 10,49 juta penduduk miskin berada di perkotaan. Rasio besaran penduduk miskin yang berada di pedesaan membuktikan bahwa program penuntasan kemiskinan tidak sampai pada masyarakat marginal. Republik masuk angin menjadi sebuah istilah yang pantas melihat perkembangan Indonesia saat ini.

Lantas Apa Yang Perlu Dilakukan Dalam Republik Yang Masuk Angin?

Pembangunan politik dan pembangunan ekonomi yang berjalan beriringan merupakan salah satu contoh yang dapat menjadi solusi mengatasi masuk anginya republik ini, dimana persolan pembanguan ekonomi (baca: pembangunan kesejahteraan) menjadi penting untuk menjadikan republik yang kuat, kesejahteraan masyarakat adalah kunci utama dalam menyelesaikan angin yang terus masuk dan berkembang dalam republik ini. Vox populi vox dei (baca: suara rakyat suara tuhan) harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan dan setiap kebijkan harus berpihak pada masyarakat marginal.

Tentang pembangunan politik, aspek pembangunan ini menjadi sebuah landasan yang penting karena pembanguan politik menjadi dasar pembangunan ekonomi, dan pembangun politik menjadi dasar pembangunan administrasi serta hukum. Maka saat ini tak perlu kembali pada perdebatan klasik soal dasar negara dimana saat ini kita pun masih malas baca dan menulis, maka yang perlu dilakukan adalah penguatan akan the five principles dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila Sebagai Solusi Kongkrit

Pancasila dengan kelima silanya serta tiga puluh enam pedoman pengamalanya merupakan solusi konstruktif dalam menyelesaikan masuk anginnya Indonesia, dengan syarat pengamalan akan Pancasila dilakukan secara utuh bukan setengah-setengan apalagi hanya kulit luarnya yang diterapkan ini tidak dibenarkan.

Selain itu Pancasila harus menjadi doktrin perjuangan dan landasan bergerak setiap masyarakat, dengan demikian persoalan-persoalan masuk anginya Indonesia bisa terselesaikan. Mengapa dikatakan bahwa Pancasila adalah solusi kongkrit dalam menyelesaikan persolan? Karena nila-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila memiliki sifat obyektif-subyektif. Sifat subyektif karena Pancasila merupakan hasil perenungan dan pemikiran bangsa Indonesia digali dari setiap kebudayaan bangsa Indonesia yang gotong royong dan humanis. Sedangkan bersifat obyektif artinya nilai Pancasila sesuai dengan kenyataan dan bersifat universal yang diterima oleh bangsa-bangsa beradab.

Oleh karena memiliki nilai obyektif universal dan diyakini kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia maka Pancasila harus selalu dipertahankan sebagai dasar negara. Dalam pidato Bung Karno di PBB, bung menegaskan bahwa “Panca Sila”. Ya, “Panca Sila” atau Lima Sendi Negara. Lima Sendi itu tidaklah langsung berpangkal pada Manifesto Komunis ataupun Declaration of Independence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu, mungkin sudah ada sejak berabad-abad telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme menenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional. Jadi berbicara tentang Pancasila dihadapan Tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu tahun”.

Sangat miris ketika 30 September 1960 Bung Karno menyatakan Bahwa Pancasila adalah hasi peradaban bangsa Indonesia namun saat ini peradaban dan cita-cita itu seolah hilang tanpa arah,  maka dari itu marilah kita terus perkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena hanya Pancasila lah obat masuk angin yang akan melakukan kerja “Wes Ewes Ewes Bablas Angine”.

Untuk mengakhiri tulisan ini saya penulis ingin menyampaikan bahwa setiap dinamika kebangsaan akan menjadikan bangsa semakin kuat, namun dinamika yang dimaksud bukan dinamika yang bersifat remeh temeh yang membuat kontaminasi.

Ada banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menjadi bangsa yang besar dan Indonesia dari awal sudah menegaskan bahwa Pancasila merupakan pelita yang akan menuntun menjadi bangsa yang besar, bukan hanya besar namun menjadi sentral akan kemanusian dan kemerdekaan bangsa lain. Masuk anginnya republik ini tentu dapat diatasi dengan gotong royong (salah satu nilai dari pancasila), semangat gotong royong tentu harus menjadi pedoman setiap aktivitas anak bangsa.

Mari mengatasi persoalan kegilaan di republik ini, sudah seharunya yang waras yang bergerak agar republik ini dapat menjadi republik yang kuat, bukan republik gila yang penuh angin pendusta. Wes ewes ewes bablas angine mungkin hanya ungkapan langam jawa, yang hanya menjadi iklan semata, namun tanpa disadari kita perlu kembali meracik strategi yang memiliki semangat wes ewes ewes bablas angine.

Akhirnya Mari Bangun Indonesia ini kembali! Bangunlah Indonesia ini kokoh dan kuat serta sehat! Bangunlah Republik Indonesia dimana semua rakyatnya hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah Indonesia yang sesuai dengan impian dan cita-cita Rakyatnya! (Redaksi diubah dari kutipan Pidato Bung Karno di PBB)

 

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://temukebangsaan.com/ketika-republik-kita-masuk-angin/
Twitter
Share
Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *